Pandangannya tiba-tiba terhenti. Ototnya menegang. Degup jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Entah kenapa dia seketika menjadi seperti itu dia pun tak tahu. Bukan, dia bukan melihat seseorang yang membuatnya takut atau berada dalam situasi yang panik. Bukan itu. Namun, dia baru saja menemukan sepucuk surat. Sepucuk surat yang entah kenapa saat ini bisa ada ditangannya.
Isi surat itu pendek, bahkan tidak sampai memenuhi halaman kertas itu. Terdiri dari kata-kata yang ditulis dengan huruf yang carut marut, miring ke sana-sini dan tidak rapi. Terlihat sekali tulisan itu dibuat oleh seorang anak yang baru saja belajar menulis. Surat itu sangat sederhana. Tapi entah kenapa mata sang pemuda itu berkaca-kaca. Sungguh, seorang pemuda berusia 24 tahun itu kini berusaha untuk meredam gemuruh di dadanya. Tak tahan, akhirnya dia terisak. Sejenak bersyukur, waktu telah beranjak malam sehingga sedikit sekali orang yang melintas di jalan itu.
Pemuda itu berusaha mencermati setiap kata yang ada dalam surat itu, Ibu, Syifa kangen! Syifa rindu sekali! Syifa cinta ibu karena Allah!
Dia pun tak tahu kenapa kata-kata itu mampu melelehkan kebekuan hatinya. Kata-kata itu mampu meruntuhkan tembok kesombongan yang ia bangun bertahun-tahun. Tembok itu runtuh seketika. Tergantikan oleh air mata yang kini perlahan menetes. Dia terisak pelan. Dalam hati ia bertanya, sedikit tersadar, sudah berapa lama ia tidak menangis? Sepertinya sudah lamaaa sekali. Bahkan saat mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit parah pun dia tidak menangis. Ah Ibu, bagaimana kabar ibu sekarang? Kabar terakhir yang dia tahu, ibunya masih harus rutin berobat. Itupun sudah tiga bulan yang lalu, atau empat bulan yang lalu atau mungkin lebih lama dari itu, ah…entahlah! Dia tak tahu, yang dia rasakan semua itu terasa lamaaa sekali. Dan entah kenapa malam ini dia begitu merindukan ibunya. Merindukan rumah. Dia ingin pulang. Sangat ingin.
Malam itu, kira-kira 4 km dari tempat pemuda itu terduduk di trotoar, seorang gadis kecil terbangun dari tidurnya. Dia tidak bisa tidur. Sejenak teringat pesan sang Ibu, yang kemudian membuatnya perlahan keluar kamar dan menuju kamar mandi. Gadis kecil itupun berwudlu. Tak lama kemudian, dia mulai mengerjakan sholat dengan bacaan yang ia ingat sebisanya. Hatinya saat ini terasa bingung. Ia resah.
Gadis kecil itu Syifa. “Ya Allah, di mana suratku?” tanyanya perlahan saat berdoa. Syifa memang kehilangan surat yang ia tulis di sekolah tadi. Padahal rencananya surat itu akan dia berikan pada ibunya yang sekarang telah dua minggu berada di rumah sakit.
Syifa tak pernah tahu jika suratnya telah membuat seorang pemuda menangis dan begitu merindukan ibunya juga. Yang Syifa tahu hanyalah tadi siang ibu guru memberi tugas pada murid-muridnya untuk menulis surat kepada ibu mereka masing-masing, dan surat itulah yang Syifa tulis. Syifa tak tahu jika setelah menangis, pemuda bersegera ke kostnya dengan gagap mengambil air wudlu, sejenak pemuda itu tersadar oleh pertanyaan, “Kapankah terakhir kali aku melakukan ini?” Tapi Syifa tak pernah tahu itu. Yang dia tahu hanyalah, setelah sampai di rumah, suratnya tak ada lagi di dalam tas, entah jatuh di mana.
Tapi ada yang Maha Mencatat. Malam itu, penduduk langit menyaksikan ada dua doa yang terdengar begitu tulus. Pertobatan sang pemuda akan segala perbuatannya selama itu dan langit mencatatnya. Syifa yang berdoa untuk kesembuhan ibunya itupun telah tercatat. Syifa tak pernah tahu jika isak tangis sang pemuda itu banyak ‘membantu’ akan terkabulnya doanya di malam itu. Dan memang Syifa tak pernah tahu itu. (Nisa)