Sepucuk Surat

Oktober 13, 2009 - Leave a Response

Pandangannya tiba-tiba terhenti. Ototnya menegang. Degup jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Entah kenapa dia seketika menjadi seperti itu dia pun tak tahu. Bukan, dia bukan melihat seseorang yang membuatnya takut atau berada dalam situasi yang panik. Bukan itu. Namun, dia baru saja menemukan sepucuk surat. Sepucuk surat yang entah kenapa saat ini bisa ada ditangannya.

Isi surat itu pendek, bahkan tidak sampai memenuhi halaman kertas itu. Terdiri dari kata-kata yang ditulis dengan huruf yang carut marut, miring ke sana-sini dan tidak rapi. Terlihat sekali tulisan itu dibuat oleh seorang anak yang baru saja belajar menulis. Surat itu sangat sederhana. Tapi entah kenapa mata sang pemuda itu berkaca-kaca. Sungguh, seorang pemuda berusia 24 tahun itu kini berusaha untuk meredam gemuruh di dadanya. Tak tahan, akhirnya dia terisak. Sejenak bersyukur, waktu telah beranjak malam sehingga sedikit sekali orang yang melintas di jalan itu.

Pemuda itu berusaha mencermati setiap kata yang ada dalam surat itu, Ibu, Syifa kangen! Syifa rindu sekali! Syifa cinta ibu karena Allah!

Dia pun tak tahu kenapa kata-kata itu mampu melelehkan kebekuan hatinya. Kata-kata itu mampu meruntuhkan tembok kesombongan yang ia bangun bertahun-tahun. Tembok itu runtuh seketika. Tergantikan oleh air mata yang kini perlahan menetes. Dia terisak pelan. Dalam hati ia bertanya, sedikit tersadar, sudah berapa lama ia tidak menangis? Sepertinya sudah lamaaa sekali. Bahkan saat mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit parah pun dia tidak menangis. Ah Ibu, bagaimana kabar ibu sekarang? Kabar terakhir yang dia tahu, ibunya masih harus rutin berobat. Itupun sudah tiga bulan yang lalu, atau empat bulan yang lalu atau mungkin lebih lama dari itu, ah…entahlah! Dia tak tahu, yang dia rasakan semua itu terasa lamaaa sekali. Dan entah kenapa malam ini dia begitu merindukan ibunya. Merindukan rumah. Dia ingin pulang. Sangat ingin.

Malam itu, kira-kira 4 km dari tempat pemuda itu terduduk di trotoar, seorang gadis kecil terbangun dari tidurnya. Dia tidak bisa tidur. Sejenak teringat pesan sang Ibu, yang kemudian membuatnya perlahan keluar kamar dan menuju kamar mandi. Gadis kecil itupun berwudlu. Tak lama kemudian, dia mulai mengerjakan sholat dengan bacaan yang ia ingat sebisanya. Hatinya saat ini terasa bingung. Ia resah.

Gadis kecil itu Syifa. “Ya Allah, di mana suratku?” tanyanya perlahan saat berdoa. Syifa memang kehilangan surat yang ia tulis di sekolah tadi. Padahal rencananya surat itu akan dia berikan pada ibunya yang sekarang telah dua minggu berada di rumah sakit.

Syifa tak pernah tahu jika suratnya telah membuat seorang pemuda menangis dan begitu merindukan ibunya juga. Yang Syifa tahu hanyalah tadi siang ibu guru memberi tugas pada murid-muridnya untuk menulis surat kepada ibu mereka masing-masing, dan surat itulah yang Syifa tulis. Syifa tak tahu jika setelah menangis, pemuda bersegera ke kostnya dengan gagap mengambil air wudlu, sejenak pemuda itu tersadar oleh pertanyaan, “Kapankah terakhir kali aku melakukan ini?” Tapi Syifa tak pernah tahu itu. Yang dia tahu hanyalah, setelah sampai di rumah, suratnya tak ada lagi di dalam tas, entah jatuh di mana.

Tapi ada yang Maha Mencatat. Malam itu, penduduk langit menyaksikan ada dua doa yang terdengar begitu tulus. Pertobatan sang pemuda akan segala perbuatannya selama itu dan langit mencatatnya. Syifa yang berdoa untuk kesembuhan ibunya itupun telah tercatat. Syifa tak pernah tahu jika isak tangis sang pemuda itu banyak ‘membantu’ akan terkabulnya doanya di malam itu. Dan memang Syifa tak pernah tahu itu. (Nisa)

Tentang Puisi yang Pertama dan Terakhir

Agustus 31, 2009 - Leave a Response

Dari beberapa hari  yang lalu ada dua lagu yang sering didenger. Kau Puisinya Bondan feat. Fade 2 Black sama Cinta Pertama dan Terakhirnya Sherina.

Hmm,, ga tau kenapa ko jadi sering dengerin. Suka liriknya. Suka lagunya.

KAU PUISI

by Bondan ft Fade 2 Black

F2B: Yo baby.. kau sosok yang punyai arti. Kau Puisi.. yeah.. ketika datang sepi. Saat nikmati indah sunset pantai kuta. Hadirmu jadi pelengkapku di tata surya. Aku butuh dunia.. yeah.. dan kau.. sebagai pendamping ketika ku rasakan galau. Aku butuh cinta.. yess.. dan kau.. adalah tema saatku rasakan galau. Kau ada untuk melengkapi diriku. Kau tercipta untuk menutupi kekuranganku. L. O. V. E. yang membuatku bisa bertahan. Seperti rumput yang tak kan tumbang oleh topan. Emosi, perasaan, jaminan rasa aman. Kau sanggup taklukan hati dengan sebuah senyuman. Aku berdiri karna kau hadir di sisi. Your my everything baby.. kau takkan pernah terganti..

Mr. B: Kaulah belahan hatiku.. yang terangi aku.. dengan cintamu.

Kau hangatkan jiwaku.. dan slimuti aku.. dengan kasihmu.

F2B: Oke yaa!! Ku coba gapai apa yang kau ingin. Saat ku terjatuh sakit.. kau adalah aspirin. Coba menuntunmu agar ada di dalam track. Kau catatan terindah di dalam teks. Dan aku mengerti apa yang kau mau, hargai dirimu, menjadi imammu. Karna kau diciptakan dari tulang rusukku.. selain itu.. karna kau bagian dariku.

Dan dirimu.. damaikan.. hatiku.. yeah.. Dan artimu.. tak akan.. berakhir..

CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR

by Sherina

Sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih

Sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

reff:
Kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku

Sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini

Sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku tak ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

Bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku

Saat Hanya Mampu Menatap dari Kejauhan

Juni 27, 2009 - 3 Responses
Untuk seorang Kakak yang terlihat sangat lelah

Kak, dari sini kulihat dirimu
engkau yang telah menemukan dunia yang baru
dunia yang mampu membuat tawamu sering berderai
dunia yang kau anggap bisa mengertimu
Ah, tapi Kak
jujur, terkadang aku justru merasa cemas
aku takut jika semua itu membuatmu terlena dan lupa bahwa semua itu hanya sementara

Kak, di sini kulihat dirimu
engkau yang telah banyak berubah
kau yang telah menjadi sosok yang berbeda
Tapi Kak,
entah kenapa aku justru merindukan sosokmu yang dulu
sosok yang sederhana dan apa adanya

Kak, dari sini kulihat dirimu
engkau yang masih merindu
tentang sebuah cinta yang mampu menyejukkanmu
yang mampu melepaskanmu dari dahaga kegelisahan
yang bisa membuatmu menyelami kejernihan iman
sinar matamu selalu mengisyaratkan betapa engkau merindukan itu

Kak, dari sini kulihat dirimu
meskipun samar, kadang kulihat wajahmu dirundung duka karena pencarian itu
Kak, saat kau bersedih ingin sekali hati ini menghiburmu
membalut lukamu dengan perban kasih sayang dan cinta
Tapi Kak, aku tak bisa lakukan itu
aku hanya mampu menatap dari kejauhan
dan berdoa semoga luka itu lekas mengering dengan angin hikmah dan kebaikan

Kak, di sinilah aku
yang hanya mampu menatap
meskipun mungkin kau tak pernah menyadarinya

Kak, meskipun rasanya kau terasa semakin jauh
tapi sejauh apa pun dunia itu mengubahmu,
aku yakin kau masih seperti yang dulu
masih tetap seorang kakak yang sangat baik
kakak yang selalu ingin membuat orang-orang di sekitarnya bahagia

Kak,
seperti apa pun keadaanmu
semoga kau baik-baik saja di sana

semoga DIA senantiasa mengokohkan keimananmu,
tak peduli betapa kerasnya rintangan yang harus kau hadapi

semoga selalu tergores dalam hatimu
satu keinginan :
mengharap ridhoNYA

Kak,
semoga kau tak pernah lupa
cintaNYA akan selalu membuat hatimu tenang,
damai
dan mencintaiNYA akan selalu menjadi hal yang terindah bagimu…

Saat Hati Ingin Sekali Berjumpa denganmu…

Juni 8, 2009 - Leave a Response
Untuk malaikat kecilku…
Mungkin orang-orang yang membaca ini akan berpikir “Bunda” terlalu mengada-ada. Bagaimanalah tidak, karena sampai detik ini pun sosokmu sama sekali belum ada di dunia ini. Engkau masih ada di sana, dalam sebuah penjagaan yang terbaik di sisiNYA. Entah akan berapa lama lagi DIA menghadirkanmu di sini dan mempertemukan kita. Wallahua’lam.

Sayang…
Tahukah engkau, karenamulah rak buku “Bunda” banyak berisi tentang “dirimu”. Sungguh, “Bunda” ingin mengetahui bagaimana perasaan itu jika kelak “Bunda” benar-benar bersamamu. “Bunda” ingin tau bagaimana pesona kelahiran, pesona tangis dan tawamu, pesona perjuangan bisa tengkurap, pesona fase berdiri dan berjalan, serta serentetan hikmah yang mempesona dari setiap tahap perkembanganmu. Oleh karena itu, “Bunda” membaca buku-buku dari para ibu tentang buah hatinya. Ada berbagai macam warna di dalamnya, namun tetap menggoreskan rasa yang sama : BAHAGIA. Meskipun karena hal ini teman-teman “Bunda” terkadang meledek, yang selalu “Bunda” tanggapi dengan senyuman. Toh akhirnya mereka ikut membaca buku-buku itu :)

Sayang…
Karenamu “Bunda” betah duduk berlama-lama untuk mengamati anak-anak TK di sebelah kampus yang sedang bermain-main, bernyanyi, atau berlatih drumband. Karenamu jugalah yang membuat “Bunda” bersemangat setiap datang jadwal untuk ke panti. Dengan perasaan bahagia mendengarkan celoteh anak-anak di sana, sambil terkadang membayangkan kelak kau akan berceloteh seperti mereka pula :)

“Bunda” memang memiliki banyak kekurangan, tapi “Bunda” akan berusaha agar kelak “Bunda” mampu dan pantas menjadi seorang ibu untuk dirimu, yang selalu menjaga, merawat, dan mencintaimu sepenuh hati.

Sekarang “Bunda” memang belum pandai memasak. Namun semoga kelak “Bunda” bisa membuatkanmu makanan yang bergizi dan kau sebut “enak” setiap hari. Hingga kau tak perlu jajan sembarangan di luar sana.

Mungkin sekarang “Bunda” masih merasa sulit untuk mengendalikan emosi, tapi “Bunda” akan belajar. “Bunda” akan belajar untuk bersabar. Dan semoga kelak “Bunda” benar-benar dapat mempraktikkan bahwa berlaku lembut akan jauh lebih baik dari perlakuan kasar. Bahwa bertindak tegas dan disiplin tidak selalu diaplikasikan dengan bentakkan dan kemarahan.

Sayang…
Yang tak kalah penting adalah semoga Bunda mampu menjaga setiap kebaikan yang berasal dari kebeningan hatimu. Semoga kebersihan jiwa itu akan selalu terjaga hingga kau dewasa. Menjadi anak yang baik, mampu memberikan cahaya penyembuh bagi hati-hati yang terluka, dan tak pernah lelah menebarkan kebaikan. Semoga semua itu akan membuatmu selalu berjalan dalam cahaya cintaNYA yang tak pernah padam.

Sayangku…
Semoga kerinduan ini adalah salah satu jalan yang diberikan ALLAH untuk menemuimu. Hingga akhirnya nanti di saat kau benar-benar datang, “Bunda” telah siap untuk menjadi BUNDA yang akan senantiasa mencintai dan membimbingmu agar kelak kau tak tersesat dalam perjalanan untuk kembali kepadaNYA.

————————–————————–————————–————————–—–
Wahai ALLAH…
perkenankanlah doa ini…

(terinspirasi dari tulisan Atina Ahdika yang menulis surat untuk “sang pangeran” yang membuatku ingin menulis untuk “malaikat kecilku”,hehe… makasih ya Dika….^^)

Lukisan Cinta itu, Sangat Indah… (part 2)

Mei 12, 2009 - One Response

Sore yang berbeda.
Seakan cerita tentang lukisan indah itu belum selesai.
Dua hari setelah aku bertemu dengan sepasang ibu dan pemuda itu, aku kembali menemukan lukisan yang sama.
Sama, karena ada dua sosok di sana, sepasang ibu dan anak.
Sama, karena aku kembali melihat ikatan cinta yg luar biasa dan begitu dalam.
ALLAH…
Terima kasih…

Sore itu, di bis.
Aku melihat sesosok ibu dan putrinya yang kira-kira berumur 8 atau 9 tahun.
Setelah kucermati sang ibu adalah seorang tuna netra.
ALLAH…

Dengan langkah yg hati-hati si gadis kecil menuntun ibunya memasuki bis. Tangan kanannya menggandeng lengan sang ibu dan tangan kirinya membawa dua buah tas yang berukuran besar dan kupikir bebannya cukup berat. Wajahnya terlihat agak bingung untuk memilih tempat duduk. Namun akhirnya dia memilih duduk di kursi yang dekat dengan pintu.

Setelah mempersilakan sang ibu duduk, si gadis kecil menata barang2 bawaannya. Kemudian dia menghela napas panjang, mungkin lelah. Tapi yang kulihat wajahnya tetap terlihat riang. Buktinya, setelah itu si gadis kecil bercerita pada sang ibu. Sesekali kulihat sang ibu dan gadis kecilnya itu tertawa.

Ada perasaan aneh yg merasukiku saat melihat itu…
halus, tapi sangat terasa.
Cemburu, mungkin iya.
Tapi ada perasaan bahagia yg teramat sangat…
Karena lukisan itu adalah obat rinduku.

Bu’…
Rindu ini untukmu…

Sore yang berbeda.
Dan cerita tentang lukisan cinta itu terus bergulir.
Duhai ALLAH,
terima kasih!!

Lukisan Cinta itu, Sangat Indah…

Mei 8, 2009 - Leave a Response

Tadi sore, cuaca memang tak seperti biasanya.  Tadi gerimis cukup lama, setelah beberapa hari  lumayan terik dan sama sekali tak turun hujan.  AlhamduliLLAH…

Sore tadi di angkot.

Dengan jalanan yang cukup padat.  Orang2 berlomba untuk bisa lebih dulu melaju.

Meskipun begitu, gerimis tadi siang menyisakan udara yang sejuk dan terasa menyenangkan.

Hatiku terasa “biasa” saja.  Masih belum sadar jika di hadapanku terbentang “lukisan” yang sangat indah.

Beberapa menit setelah itu aku mulai mencari-cari hal yang menarik.

Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada dua sosok manusia yang duduk di depanku.

Seorang ibu, usianya kira-kira 50-an.  Penampilannya sederhana.  Di sampingnya duduk seorang pemuda, kuperkirakan usianya sekitar 20-an, dan aku menebak mungkin dia putra dari ibu itu.

Hal yang membuat hatiku bergetar saat melihat pasangan ibu anak itu adalah, setelah kuperhatikan ternyata sang pemuda adalah seorang tuna netra.

Di angkot, sang pemuda sedang melahap roti cokelat.  Terlihat agak tergesa-gesa, seolah takut roti itu belum habis dan mereka telah sampai tempat tujuan sehingga harus turun. Di sampingnya sang ibu beberapa kali mengingatkan sang pemuda agar pelan-pelan saja mengunyahnya karena tempat tujuan mereka masih cukup jauh.  Tapi sang pemuda tetap tak mengurangi “kecepatan” melahap rotinya itu.

Dalam diam, dengan sabar sang ibu membersihkan sisa-sisa cokelat yang menempel di mulut putranya. Beberapa kali aku menangkap ulasan senyum tipis dari sang ibu ketika saat melakukan hal itu.  Dan yang membuat dadaku bergemuruh adalah, sang anak pun beberapa kali “membalas” senyum itu, seolah dia pun melihat sang ibu tersenyum untuknya.

SubhanaLLAH….

Aku hanya terpaku menatap itu semua.

Sambil berusaha mengendalikan berbagai macam perasaan yang muncul, aku tetap mengamati pasangan ibu-anak itu.

Roti sang anak telah habis.  Tangan kanannya sepertinya menjadi agak kotor.  Dia pun “mengelapkan” tangannya ke baju yang dipakainya.  Hal ini membuat sang Ibu buru-buru mengeluarkan sapu tangannya kembali.  Kemudian membersihkan kedua tangan putranya itu perlahan.  Dalam diam.  Kembali dengan senyum, dan sang anak pun ikut tersenyum, seolah “membalas” senyuman itu.

ALLAH….

Lukisan cinta yang KAU berikan sore tadi,

sangat indah!!!

Sungguh!!

Berikan Aku Waktu

April 11, 2009 - Leave a Response

Ada gemuruh yang tak terdengar

Ada jeritan di dalam kesunyian

Tapi bibir ini tertutup rapat

Saat berniat untuk berbagi dengan yang lain pun,

hanya berakhir dengan sebuah senyum miris

Ah, aku memang selalu tak ingin membicarakan itu

Maka yang ada hanya kesenyapan

Tatapan nanar melihat perjalanan yang begitu terjal

Jiwa ini lelah

Lelah untuk tersenyum di saat hati terluka

Lelah untuk tertawa, menertawakan yang kuhadapi

Lelah untuk bersikap seolah tak peduli

Cukuplah sudah!

Hari ini,

Kemarahan itu tak terbendung

Hati ini,

Sungguh…ingin rasanya berteriak

Meledakkan emosi yang telah lama bertumpukkan

Rasanya perih jika mencermati satu per satu luka yang tertoreh

Aku ingin bertanya, siapa yang salah di sini??

Tapi memang tak ada

Tak ada yang salah dengan keadaan ini

Karena DIA yang telah menetapkan

Karena DIA yang telah menggariskan

Inilah yang terbaik untukku

TERBAIK UNTUKKU…

Jika sekarang aku merasa sakit

Terluka karena semua berjalan seperti ini

Mencari-cari siapa yang pantas untuk disalahkan

Selalu bertanya kenapa seperti ini, bukan seperti itu

Maka hatiku lah yang belum bisa berdamai dengan situasi ini

Terkadang itu pula yang membuatku terjatuh,

Terjatuh berulang kali

Sakit berulang kali,

Jika diri ini merasa tak sanggup untuk bangkit kembali

Samar terdengar firman agungNYA

“ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya…”

Maka saat ini, berikanlah aku waktu

Waktu untuk mengatur hatiku agar dapat berdamai dengan keadaan

Untuk menyusun kembali kepingan puzzle yang berserakan tak karuan

Berikan aku waktu untuk menguatkan hati

Untuk meyakinkan diri bahwa memang inilah yang terbaik untukku dan harus kujalani

Untuk bersyukur, karena tak semua orang diberi kesempatan merasakan hal yang sama sepertiku

Untuk bersabar, hingga kesabaran itu berbuah keyakinan bahwa semua ini pasti akan berakhir dengan indah…

Maka aku mohon,

Berikan aku waktu untuk itu semua…

NB : buat saudara, sahabat, temen, atau semua yang udah Nisa kecewain, maaf…..

Maaf sering ngilang ga jelas dan ga bisa melakukan semuanya sesuai harapan.

Maaf….

Karena Aku Harus Kuat…

April 9, 2009 - Leave a Response

Ketika kehidupan memberimu seribu alasan untuk menangis,

tunjukkan bahwa kamu mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum.

Hari ini, aku mendapat nasihat dari hatiku.

Tepatnya setelah peristiwa tadi pagi, atau tadi malam, atau kemarin, atau tempo hari, atau beberapa bulan yang lalu, atau peristiwa beberapa tahun yang lalu, yang telah membuat hidupku “berbeda”.

Entah.

Tapi hari ini, hatiku memberikan nasihat padaku.

Begini katanya,

Nisa, kamu boleh menangis. Tapi tidak boleh terlalu lama. Sebentar saja kamu menangis.

Karena ada orang lain yang harus kamu seka air matanya.


Kamu boleh saja sedih. Tapi tak usah terlalu kamu tunjukkan kesedihan itu. Sekadarnya saja.

Karena ada yang akan sangat bahagia jika kamu tersenyum padanya dan berhasil mengusir kesedihannya.


Terkadang, kamu boleh merasa tidak semangat. Kecewa.  Putus asa.  Itu wajar.

Tapi lihatlah itu!  Ada yang sangat mengharapkanmu untuk ada di sampingnya.  Mengharapkanmu untuk duduk, dan mendengarkan tentang segala kepedihan hatinya.  Mengharapkanmu untuk memeluknya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


Ingat baik-baik.

Kamu harus seperti itu.

Karena kamu harus kuat,

seberapa pun sakit yang kamu rasakan, sekarang atau pun nanti.

Kamu harus kuat.

Saat kamu merasa pundakmu tak sanggup untuk menahan semua beban itu,

maka lihatlah ke sana…

Ada wajah-wajah penuh cinta yang akan bersedia untuk menguatkanmu.

Dan kamu harus ingat.

HARUS SELALU INGAT.

Bahwa ada ALLAH yang akan selalu bersamaMU.

Selamat Hari Lahir!!

April 9, 2009 - Leave a Response

Selamat untuk semua yang telah kau capai

Selamat atas perjalanan yang telah kau tempuh selama ini

Sekarang kau telah bertambah dewasa

Kakimu telah melangkah ke berbagai tempat

Banyak pula cerita yang telah kau ukir

dan kulihat kini kau telah mantap untuk meraih cita-citamu

Semoga kini kau telah mampu berdiri tegak

Meskipun jalan yang telah kau temukan kini,

mungkin…agak sukar dan tidak mudah untuk dilewati

Tapi jalan itu mampu membuat hidupmu menjadi semakin indah

Mungkin kau akan menjumpai banyak hal yang akan merintangi jalanmu

Tapi semua itu tak kan sanggup untuk menghentikan langkahmu

Semoga ALLAH selalu menjaga

karena bila bersamaNYA,

aku yakin kau pasti akan baik-baik saja…


NB: tepat pertengahan di bulan April,

buat temen masa kecilku yang telah beranjak dewasa…

Selamat hari lahir!!(maaf kalo ga bisa ngucapin langsung)

Tetep semangat ya!! :)

I Love U Mom…

April 5, 2009 - 2 Responses

Bila Ibu Boleh Memilih

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

Ratih Sang (Ratih Sanggarwati)

Ilmu Ikhlas..

April 4, 2009 - Leave a Response

Saat aku mengenalnya, sosok itu biasa saja.Cenderung pendiam  jika dibandingkan denganku.

Karena sering bersama, akhirnya kami dekat.

Aku sering sekali bercerita padanya.  Tentang banyak hal.  Dan dia selalu menjadi pendengar yang baik untukku.  Dia mendengarkan apa yang kuceritakan.  Sesekali mengangguk, tersenyum dan tertawa.

Sering beberapa kali aku pun balas bertanya tentang dirinya, karena tidak adil jika aku yang terus saja bercerita.

Tapi mungkin dia memang pendiam.  Tak banyak yang dia ceritakan padaku.

Dan waktu berjalan,

kebersamaan yang sering dilalui membuatku bisa mengenalnya lebih jauh. Tentang beberapa sifatnya, tentang kebiasaannya, dan tentang pemikirannya.  Beberapa kali dia mulai bercerita padaku.  Tapi meskipun begitu, dia masih sama.  Tetap pendiam.

Lebih jauh aku mengamati, diam-diam aku kagum pada sosok sederhana itu.  Sejauh ini, tak pernah sekalipun aku melihatnya marah.  Saat sedih dia tetap tenang.  Saat marah, dia pun tenang.  Aku kagum pada sosoknya yang sangat pintar mengendalikan emosi.

Dan kekaguman itu semakin bertambah, sejak kejadian itu…

Beberapa hari yang lalu.

Dia masih pendiam.

Saat kuhampiri, dia bersikap seperti biasa.

Seperti biasa pula, aku yang memulai pembicaraan.  Tapi beberapa saat kemudian tatapannya mulai aneh.  Aku sengaja diam untuk mempersilakannya bercerita.

Beberapa saat aku menunggu, kalimat pendek itu pun terdengar dari dirinya, “Yang pernah kamu bilang ke aku, terjadi sama aku.”

Hanya itu.

Aku yang tak mengerti, balas bertanya.  Kemudian dia menjelaskan dengan lebih detail.

Aku mulai paham maksudnya, tapi malah menganggapnya tak serius.  Tapi pandangan matanya meyakinkanku bahwa dia sedang tak bercanda.  “Bener ko.  Acaranya bulan depan.”

Deg!!

Aku langsung diam mendengarnya.  Perlahan pandangannya menunduk.  Matanya berkaca.  Dan aku sadar bahwa itulah tangis pertamanya yang kulihat.

Dia terluka.

Dan inilah yang membuatku kagum pada sosoknya.

Dia sangat kuat.  Sangat.

Di saat aku tak tau bagaimana harus menghiburnya, dia telah berhasil menghibur dirinya sendiri.

“Ada banyak cara yang DIA lakukan, saat DIA berkata tidak.”

kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Sungguh, saat mendengarnya hatiku bergetar.  Karena belum tentu aku bisa bersikap sehebat itu jika hal yang sama menimpaku.

Sore itu, pelajaran yang sangat berharga kudapat dari sahabat baruku.

Sahabat yang pendiam.

Yang sederhana.

Yang sangat tenang.

Dan yang sangat hebat.

Saat itu aku belajar tentang keikhlasan.

Jika harus ada kesedihan atau air mata, bukan berarti itu tidak ikhlas…

AlhamduliLLAH….

Maret 30, 2009 - Leave a Response

Di saat waktu berhenti

Kosong…

Dimensi membutakan mata

Memekakkan telinga

Lalu diri menjadi hampa

Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka

Sadarku akan hadirMU

Mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri

Sujudku pun tak kan memuaskan inginku

tuk haturkan sembah segala bengkalku

Adapun kusembahkan syukur kepadaMU ya ALLAH

untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta

dan perjalanan yang sejauh ini tertempa

AlhamduliLLAH…

Beri hamba kesempatan

Yang membuat hamba mengerti

lebih baik tentang makna diri

Semua ini berarti, apabila dihayati.

AlhamduliLLAH…

AlhamduliLLAH…

AlhamduliLLAH...

(puisi dalam lagu AlhamduliLLAH- Too Phat feat.Dian Sastro)

Penghuni Baru Rumahku

Maret 28, 2009 - Leave a Response


Hampir sebulan ini ada penghuni baru di rumahku. Namanya Afiq Izzudin Muhammad. Jangan dibayangkan seorang mas-mas atau bahkan seorang bapak-bapak. Tapi dia adalah keponakanku yang usianya baru dua tahun lebih dua bulan. Ya, masih sangatlah imut. O iya, sekedar info, Afiq itu “anak Karisma” juga. Hm…maksudnya Umi dan Abi dari si Afiq itu dulu pernah menjadi PH Karisma. Kalau tidak salah, beliau-beliaunya PH angkatan 1998-1999.

Berhubung di rumahku sangat lama tidak pernah ada anak kecil (apalagi batita seperti Afiq) maka kehadiran Afiq membuat suasana di rumahku menjadi sangat berbeda. Ada banyak mobil-mobilan yang tersebar di sudut-sudut ruangan, ruang tamu dan ruang tengah sekarang juga telah berubah fungsi menjadi tempat bermain Afiq, wangi bedak bayi dan minyak telon pun tersebar di seluruh ruangan, sekarang sering ada dua macam sayur, yang satu pedas dan tidak pedas, juga hal-hal “baru” lainnya yang membuat rumahku menjadi berbeda.

Menurutku semuanya menyenangkan. Tangisan Afiq di pagi dan sore hari (pasti setiap habis mandi) membuat suasana di rumahku menjadi ramai. Dengan celotehannya, teriakkannya dan “nyanyian” yang membuat suasana semakin semarak. Rumahku sekarang pun lebih ceria karena Afiq telah membuat banyak tawa. Apalagi dengan hebohnya dia yang setiap hari ingin naik mobil, tak terhitung berapa kali dia bilang, “nik bum-bum…nik bum-bum…” naik “bum-bum” maksudnya.

Tentang Afiq dan “bum-bum”nya ini juga membuatku terheran-heran. Afiq sangat suka mobil. Hampir semua mainannya adalah mobil-mobilan. Tidak ada yang lain, hanya satu buah boneka bola, sisanya adalah mobil-mobilan semua. Jika Afiq sedang menangis keras-keras, gampang membujuknya. Ajak saja dia duduk di jok mobil yang ada di garasi, pasti tangisnya tak lama kemudian terhenti dan sudah bisa tertawa-tawa lagi. Pernah suatu kali saat jalan-jalan, tiba-tiba Afiq berhenti di depan rumah tetangga. Dia menatap mobil yang diparkir di garasi tetangga itu lamaaa…sekali. Bahkan dia sampai jongkok dan tak mau beranjak saat diajak pergi dari situ. Hm…menurutku ini ajaib. Hehe

Kebiasaan-kebiasaan Afiq pun menjadi sering kuamati. Dari kebiasaan Afiq, aku baru bisa membuktikan bahwa salah satu sifat dari anak-anak adalah konsisten, karena sebelumnya aku baru mendapat “teori” ini dari buku.

Saat pagi hari itu, Afiq melihat adikku yang berangkat sekolah, dia lalu berkata pada kakakku, “Nte (maksudnya Tante) Ima dah sekolah, ko nte Dewi belom?” karena memang biasanya kakakku berangkat bekerja setelah adikku berangkat sekolah, dan kebetulan hari itu kantor tempat kakakku bekerja sedang libur, jadi kakakku masih ada di rumah.

Kemudian dari Afiq juga lah aku tahu bahwa pada hakikatnya kegembiraan dan keceriaan jauh lebih banyak ada di dalam kamus anak-anak dibanding rasa takut dan kesedihan. Dalam segala suasana, bayi dan anak-anak merasa gembira. Entah itu cerah, hujan, terang, gelap dan sebagainya. Orang dewasa lah yang membuat pemikiran kepada anak-anak bahwa gelap itu menakutkan, hujan itu adalah sesuatu yang pantas untuk dikeluhkan, dan sebagainya.

Sekali lagi, sebelumnya aku hanya mengetahui hal ini dari buku dan Afiq yang membuktikannya padaku bahwa itu benar. Saat listrik padam tempo hari, aku memang sengaja untuk diam dan tidak langsung bergegas mencari alat penerangan (yang biasanya menjadi tampak heboh dan panik). Kuamati reaksi Afiq. Afiq tidak menangis atau merasa takut. Dia hanya tampak kaget dengan ruangan yang tiba-tiba menjadi gelap. “Nte, nyalain nte!” pintanya padaku untuk menyalakan lampu. Lalu kujelaskan padanya bahwa lampu tidak bisa menyala dalam keadaan seperti ini. Lalu kuajak dia menyalakan lilin. Tak lama setelah itu Afiq telah asyik mengamati lilin (dengan pengawasan “ketat” dari aku dan yang lain juga tentunya!). Ditiupnya perlahan-lahan. Terkadang saat api lilin itu mati, Afiq justru berteriak kegirangan dan memintaku untuk menyalakannya kembali. Begitu seterusnya. Dan ending dari kisah di malam itu? Afiq justru “protes” saat lampu kembali menyala karena lilinnya harus dimatikan. Yah, dasar….

Begitulah Afiq yang kehadirannya membuat suasana di rumahku menjadi sangat berbeda. Jauh menjadi lebih ramai dan ceria. Juga dengan kebiasaan-kebiasaan Afiq yang sering memberikan banyak pelajaran kepadaku. Makasih ya Fiq ya….^^


Kisah Blueangelz dan Pinkyholic

Maret 28, 2009 - One Response

Blueangelz dan Pinkyholic adalah saudara (sebenernya aku ga sepakat dengan nama ini. Tapi demi dirimu, kakakku! Kali ini aku mengalah…hehe) Banyak yang bilang mereka berdua mirip. Ga tau juga sih, karena mereka berdua ga ngerasa gitu. Tapi sejujurnya pernah juga Pinkyholic merhatiin pas fotonya dan dia ngerasa ko wajahnya di foto itu mirip banget sama Blueangelz. Ya sudahlah… dibilang mirip pun tak apa. Toh mereka memang saudara.

Terus bedanya Blueangelz sama Pinkyholic?? Banyak juga bedanya. Blueangelz cinta banget sama fisika. Sedangkan Pinkyholic pasti udah alergi duluan setiap denger fisika. Ada lagi bedanya. Mau ga mau, Pinkyholic harus mengakui bahwa Blueangelz itu jago masak. Yupz, jago banget!! Meskipun ga sekolah di tata boga atau masak memasak, tapi kayanya setiap masakan yang dibikin sama Blueangelz ga ada yang ga enak (yeah, semoga pengakuan ini ga bikin kepala Blueangelz tambah gede!)

Dan tentang masak memasak ini, jangan dibandingin sama Pinkyholic. Jauh banget selisihnya. Pinkyholic sekarang lagi proses belajar masak. Padahal dari dulu Blueangelz udah sering mewanti-wanti sama Pinkyholic, “Pokoke gak pareng nek ga iso masak!!” gitu katanya. Tapi sayangnya waktu itu kata-kata Blueangelz ga cukup buat menyadarkan Pinkyholic.

Waktu terus berjalan dan itu bikin Pinkyholic sadar bahwa makanan yang dijual di mana-mana itu belum tentu sehat (kayanya ga nyambung deh)

Apalagi waktu baca buku Toto Chan, di sana ada cerita kalo setiap hari Toto Chan dibuatin bekal sama Mamanya, dan Toto Chan selalu bilang sama temen-temennya, “Mamaku pinter masak lho!” Pinkyholic sampe terharu pas baca ini. Dan sejak itu, salah satu impiannya adalah semoga besok anaknya bisa bilang kaya Toto Chan gitu (bukan malah sebaliknya!)

Maka jadilah kesadaran itu disampaikan ke Blueangelz. Dan dengan penuh semangat, Blueangelz menyambut niat baik Pinkyholic buat belajar masak. Tapi ternyata belajar masak ga segampang bayangan Pinkyholic. Buat dia, bikin masakan apalagi resep baru (baru dicoba sama Pinkyholic maksudnya!), adalah “pertaruhan harga diri”. Dasar lebay banget!!

Jadilah Pinkyholic belajar memasak di bawah bimbingan Blueangelz. Buat Pinkyholic, Blueangelz itu guru masak yang baik. Ya gimana ga, selama ini Pinkyholic sering banget minta resep-resep dadakan dan selalu dikasih sama Blueangelz (meskipun Pinkyholic selalu nawar dulu, “Kalo misalnya ga pake itu tapi pake ini gimana? Kalo takarannya dikurangi ga pa-pa kan?!” Ribet lah pokoknya)


Sewaktu-waktu Pinkyholic juga sering nanya-nanya ke Blueangelz, yang kadang malu-maluin juga sih pertanyaannya (Krim kental itu apa? Bedanya margarin sama mentega?? White chocolate cooking sama dark chocolate cooking bedanya ke kue gimana?? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang ga kalah “polos”nya)

Berkat bimbingan Blueangelz dan kesungguhan Pinkyholic juga tentunya, Pinkyholic sekarang jadi udah mending kalo bikin makanan. Meskipun tragedi-tragedi di dapur masih sering terjadi, tapi alhamduliLLAH makanan yang dia buat udah dalam taraf “layak makan”. Meskipun kadang temen-temennya Pinkyholic menatap masakannya dengan pandangan agak ngeri, “Ko tampilannya gini sih?” gitu rata-rata komen dari mereka, dengan santai Pinkyholic bilang, “Tapi rasanya enak dan bergizi kan? Maaf ya, berhubung masih dalam proses belajar masak, aku pake prinsip ngapain bikin masakan unik tapi ga enak?!”

Haha, dasar…. Pasti Blueangelz rasanya pengen banget jitak Pinkyholic kalo tau ini… ^^;;

Malaikat Kecil

Maret 26, 2009 - Leave a Response

Namanya Aqila Nurusyifa.  Nama itu bukan sekedar nama, karena itu merupakan doa yang dipanjatkan oleh bunda dan ayahnya.

Wanita cerdas yang menjadi cahaya penyembuh bagi bunda dan ayahnya, juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Usia Syifa empat tahun.  Rambutnya ikal, kulitnya putih, matanya bening, bulat indah.  Hidungnya kecil, tapi mancung.  Sangat menggemaskan!

Apalagi dengan bibir mungilnya yang sering sekali bertanya ini-itu.

Seperti saat pulang dari mengaji,

kaki-kaki kecilnya berlari memasuki rumah, langsung mencari Bundanya dan bertanya, “Surga itu apa Bunda?”

“Syifa pengen jadi ahli surga.” katanya polos setelah mendengar jawaban dari Bundanya.  Dan gadis kecil itu tak tahu jika kata-katanya membuat hati Bundanya bergetar, seraya memohon semoga doa putri kecilnya itu dikabulkan kelak.

Begitulah.

Syifa yang lucu, yang periang, yang penyayang.  Syifa yang suka berbagi, yang cerdas jika dibandingkan dengan anak sebayanya.

Syifa yang shalihah.  Yang akan menangis keras-keras jika ia melewatkan waktu shalat tanpa sengaja.  Syifa yang ingin meniru Rasulullah.

“Rasulullah kan minumnya sambil duduk!” celotehnya sambil mencari-cari tempat duduk saat di pusat perbelanjaan bersama bundanya kala itu.

Syifa yang membuat bunda dan ayahnya senatiasa bersyukur atas anugerah yang sangat besar itu.

“Bunda bangga sama Syifa ya?  Syifa anak  baik ya Bunda?” dengan mimik lucu Syifa mengulang kata-kata bundanya yang mengungkapkan kebanggaan pada putrinya itu.

Dia, Aqila Nurusyifa.  Malaikat kecil yang membuat bunda dan ayahnya belajar banyak tentang kehidupan.

NB : Maaf bagi yang bosan dengan “cerita ” ini ^^;